1. NEWS
"Polisi Bekuk Pelaku Perampokan Mobil di
Tanah Abang, Jakarta Pusat".
Kepolisian Sektor Pancur Batu menangkap dua dari
empat pelaku perampasan mobil di kawasan lokalisasi, Tanah abang ,Jakarta pusat.
Kapolsek Pancur Baru Kompol Darwin Sitepu mengatakan, penangkapan berawal dari laporan korban ke kantor polisi karena mengetahui mobilnya dilarikan para pelaku. Setelah itu korban dan tim dari kepolisian langsung turun dan menangkap dua pelaku sedangkan dua lagi melarikan diri, namun identitasnya sudah diketahui.
Dia menjelaskan, kedua tersangka yang ditangkap yaitu Susanto Suton alias Tono dan Riko sedangkan dua tersangka lagi berhasil melarikan diri. "Keduanya ditangkap saat akan melarikan mobil korban," katanya.
Modus yang digunakan pelaku untuk merampas mobil dan truk milik korban Roni Humbanggaol, warga Desa Stanmal Sumupagata, Sidikalang dan Jhonson, warga Laucin, Medan Tuntungan dengan cara membius para korbannya pada saat berada di penginapan lokalisasi, Bungalow Ananda, Berastagi.
Saat dilakukan pemeriksaan terhadap kedua tersangka, Susanto mengaku kelompoknya biasa merampas mobil jenis Toyota Avanza dan kemudian menjualnya di kawasan AH Nasution, Medan Johor dengan harga Rp18 juta.
Menurut Susanto, aksi perampasan dengan obat bius sudah sering dilakukan dan hingga saat ini sudah puluhan mobil berhasil di rampas dari pemiliknya. "Kami biasa menjual untuk jenis Avanza dengan harga 18 juta sedangkan truk Colt Diesel Rp120 juta," akunya.
Peristiwa berawal pada saat ke empat pelaku bertemu dengan korban Roni dan Jhonson di Tanah abang, Jakarta pusat dengan tujuan ingin menyewa mobil untuk mengangkat barang-barang yang ada di Medan dan meminta mereka (korban) untuk menjemputnya.
Kapolsek Pancur Baru Kompol Darwin Sitepu mengatakan, penangkapan berawal dari laporan korban ke kantor polisi karena mengetahui mobilnya dilarikan para pelaku. Setelah itu korban dan tim dari kepolisian langsung turun dan menangkap dua pelaku sedangkan dua lagi melarikan diri, namun identitasnya sudah diketahui.
Dia menjelaskan, kedua tersangka yang ditangkap yaitu Susanto Suton alias Tono dan Riko sedangkan dua tersangka lagi berhasil melarikan diri. "Keduanya ditangkap saat akan melarikan mobil korban," katanya.
Modus yang digunakan pelaku untuk merampas mobil dan truk milik korban Roni Humbanggaol, warga Desa Stanmal Sumupagata, Sidikalang dan Jhonson, warga Laucin, Medan Tuntungan dengan cara membius para korbannya pada saat berada di penginapan lokalisasi, Bungalow Ananda, Berastagi.
Saat dilakukan pemeriksaan terhadap kedua tersangka, Susanto mengaku kelompoknya biasa merampas mobil jenis Toyota Avanza dan kemudian menjualnya di kawasan AH Nasution, Medan Johor dengan harga Rp18 juta.
Menurut Susanto, aksi perampasan dengan obat bius sudah sering dilakukan dan hingga saat ini sudah puluhan mobil berhasil di rampas dari pemiliknya. "Kami biasa menjual untuk jenis Avanza dengan harga 18 juta sedangkan truk Colt Diesel Rp120 juta," akunya.
Peristiwa berawal pada saat ke empat pelaku bertemu dengan korban Roni dan Jhonson di Tanah abang, Jakarta pusat dengan tujuan ingin menyewa mobil untuk mengangkat barang-barang yang ada di Medan dan meminta mereka (korban) untuk menjemputnya.
2. Feature
“Human Interest”
Sulastri sang pedagang gado-gado yang bercita-cita
tinggi
Perempuan berusia 52 tahun ini adalah sosok seorang
ibu yang mempunyai cita-cita tinggi untuk mendidik kedua anaknya. Kehidupan
yang serba berkecukupan, tak membuat perempuan yang berprofesi sebagai penjual
“Gado-gado” ini lupa akan pentingnya sebuah pendidikan. Sulastri, begitu sapaan
dari para pelanggannya, walau hanya tamat Sekolah Dasar tak menutupi pikirannya
untuk menyekolahkan anak-anaknya ke pendidikan yang tinggi.
Keinginan yang keras demi melihat anak-anaknya
mendapat pendidikan yang layak dan mendapat sebuah ilmu yang akan menunjang
pekerjaan adalah harapan besar untuk mewujudkan cita-citanya yang mulia
tersebut.
Sedikit demi sedikit uang yang didapat dari bekerja
dikumpulkannya. Dari uang itulah Sulastri dapat menyekolahkan kedua anaknya
sampai ke perguruan tinggi. Kesadaran akan sebuah pendidikan yang utama membuat
Sulastri banting tulang untuk mencukupi kebutuhan perkuliahan kedua anaknya
yang dirasakannya memang sangat berat, namun Sulastri perempuan yang lahir di
Nganjuk itu tak patah semangat, banyak tetangga-tetangganya yang mencibir
keinginan keras Sulastri untuk menyekolahkan kedua anaknya ke pendidikan yang
tinggi.
Kesulitan yang dialami bukan tak ada, biaya
perkuliahan yang sekarang semakin tinggi membuat Sulastri sesekali hutang ke
tetangganya untuk membayar biaya perkuliahan anak-anaknya. Sebuah perjuangan
besar dan dibayar mahal oleh keberhasilan anak pertamanya yang berhasil lulus
pada tahun 2006, harapan dan juga cita-cita tinggi oleh Sulastri masih
menyisakan satu perjuangan besar yakni membiayai perkuliahan anaknya yang
terakhir yang masih di semester IV Universitas Mulawarman.
Kesuksesan dari sebuah perjuangan besar yang hanya
dengan berjualan “Gado-gado” mampu mewujudkan cita-cita seorang Ibu, sekaligus
untuk menyediakan pendidikan yang luar biasa untuk anak-anaknya.
3. Investigasi
Suatu ketika diberitakan tentang penggunaan borax
atau formalin pada produk bola daging bakso, kemudian pada waktu lain tentang
penggunaan zat pewarna berbahaya untuk pewarna makanan. Dilain kesempatan juga
pernah ditayangkan tentang daging sapi glonggongan, ayam bangkai (tiren),
campuran daging tikus pada bola daging bakso dan masih banyak lagi contoh
lainnya. Semuanya menakutkan dan bahkan mengerikan.
Yang menjadi persoalan adalah apakah semua itu fakta
atau jangan-jangan sebagian hanya berita yang direkayasa. Penyamaran pelakunya
memang perlu untuk menjaga etika pemberitaan, namun hal ini juga bisa menjadi
cara bagi pembuat acara itu untuk membuat berita fiktif. Pemberitaan laporan
investigasi sebagian besar memang produk makanan olahan dan industri rumah
tangga, jadi memang pada umumnya tidak langsung di bawah pengawasan badan POM.
Dalam hal ini muncul kecurigaan bahwa pemberitaan, atas permintaan industri
besar, sengaja ditiupkan untuk mematikan industri kecil rumah tangga yang
biasanya lebih murah. Selanjutnya karena ketakutan oleh pemberitaan terhadap
produk itu, konsumen ganti memilih membeli produk perusahaan yang pasti sudah
di bawah pengawasan badan POM. Konsumen menjadi ketakutan membeli produk
makanan industri rumah tangga, padahal belum tentu industri kecil rumah tangga
melakukan praktek nakal seperti laporan investigasi tersebut.
Seandainya memang diduga ada praktek merugikan
konsumen, sebaiknya yang melakukan investigasi adalah badan POM bukan wartawan
media. Karena seperti yang disebutkan di atas, pemberitaan investigasi tersebut
diragukan kebenarannya, terkesan direkayasa. Lebih baik media bekerjasama
dengan badan POM untuk investigasi yang resmi, sehingga keakuratan laporannya
bisa dipertanggungjawabkan.
Konsumen memang perlu dilindungi dan dalam hal
konsumen produk makanan badan POM yang bertanggungjawab, bukan media masa.
Media hanya membantu untuk memberitakannya. Jangan seperti laporan investigasi
selama ini yang terkesan diatur skenarionya. Seharusnya wartawan media mencari
permasalahan yang dialami konsumen kemudian membawanya ke badan POM dan
selanjutnya bekerjasama menginvestigasinya secara resmi dan kemudian
memberitakannya. Sehingga konsumen memperoleh berita yang sesuai fakta dan
bukan terkesan rekayasa yang hanya menakut-nakuti masyarakat konsumen.
4. Opini
( Pendapat )
“
Bahaya Narkoba”
Pentingnya
mengetahui masalah bahaya narkoba, seperti issu atau info yang hampir setiap harinya memberitakan tentang bahaya narkoba dan yang menjadi
korbnnya adalah generasi muda yang ingin mencoba – coba barang haram tersebut.
Opini saya tentang bahaya narkoba adalah yang sudah diketahui secara umum, bahwa sekarang ini narkoba menjadi primadona baik bagi kalangan muda
maupun tua. Meskipun sekarang telah dilakukan
banyak ceramah–ceramah tentang bahaya narkoba yang akan didapat
dari penggunaan narkoba, sampai resiko yang terbesar yaitu kematian tetap saja para generasi muda pada umumnya ingin mencoba dan menggunakan narkoba.
Zaman sekarang banyak
sekali ancaman yang dapat merusak generasai bangsa Indonesia. Salah satunya
obat – obatan terlarang seperti narkoba, ekstasi, shabu-shabu, ganja dan
sebangsanya merupakan ancaman nyata bagi generasi muda Indonesia. Bahkan akibat
dari konsumsi narkoba telah terbukti merusak mental dan psikologis generasi bangsa, menjadi generasi yang tanpa masa
depan. Sebagai fakta bahwa bangsa ini terus menerus dirusak oleh narkoba
yaitu beberapa bulan yang lalu ditemukannya pabrik shabu-shabu yang beroperasi
di Batam dimana omsetnya sekitar Rp 454 miliar, dan dibongkar oleh Polri yang bekerjasana dengan Kepolisian Internasional
beberapa waktu lalu, cukup untuk membuktikan bahwa ancaman narkoba
bagi generasi muda sudah sangat banyak dan cukup serius. Bila semakin banyak generasi bangsa yang terusak
oleh narkoba, maka bangsa kita
ini bisa menjadi bangsa yang semakin tertinggal.