Senin, 18 November 2013

1.   NEWS
"Polisi Bekuk Pelaku Perampokan Mobil di Tanah Abang, Jakarta Pusat".
Kepolisian Sektor Pancur Batu menangkap dua dari empat pelaku perampasan mobil di kawasan lokalisasi, Tanah abang ,Jakarta pusat.

Kapolsek Pancur Baru Kompol Darwin Sitepu mengatakan, penangkapan berawal dari laporan korban ke kantor polisi karena mengetahui mobilnya dilarikan para pelaku. Setelah itu korban dan tim dari kepolisian langsung turun dan menangkap dua pelaku sedangkan dua lagi melarikan diri, namun identitasnya sudah diketahui.

Dia menjelaskan, kedua tersangka yang ditangkap yaitu Susanto Suton alias Tono dan Riko sedangkan dua tersangka lagi berhasil melarikan diri. "Keduanya ditangkap saat akan melarikan mobil korban," katanya.

Modus yang digunakan pelaku untuk merampas mobil dan truk milik korban Roni Humbanggaol, warga Desa Stanmal Sumupagata, Sidikalang dan Jhonson, warga Laucin, Medan Tuntungan dengan cara membius para korbannya pada saat berada di penginapan lokalisasi, Bungalow Ananda, Berastagi.

Saat dilakukan pemeriksaan terhadap kedua tersangka, Susanto mengaku kelompoknya biasa merampas mobil jenis Toyota Avanza dan kemudian menjualnya di kawasan AH Nasution, Medan Johor dengan harga Rp18 juta.

Menurut Susanto, aksi perampasan dengan obat bius sudah sering dilakukan dan hingga saat ini sudah puluhan mobil berhasil di rampas dari pemiliknya. "Kami biasa menjual untuk jenis Avanza dengan harga 18 juta sedangkan truk Colt Diesel Rp120 juta," akunya.

Peristiwa berawal pada saat ke empat pelaku bertemu dengan korban Roni dan Jhonson di Tanah abang, Jakarta pusat dengan tujuan ingin menyewa mobil untuk mengangkat barang-barang yang ada di Medan dan meminta mereka (korban) untuk menjemputnya.
2.   Feature
“Human Interest”
Sulastri sang pedagang gado-gado yang bercita-cita tinggi
Perempuan berusia 52 tahun ini adalah sosok seorang ibu yang mempunyai cita-cita tinggi untuk mendidik kedua anaknya. Kehidupan yang serba berkecukupan, tak membuat perempuan yang berprofesi sebagai penjual “Gado-gado” ini lupa akan pentingnya sebuah pendidikan. Sulastri, begitu sapaan dari para pelanggannya, walau hanya tamat Sekolah Dasar tak menutupi pikirannya untuk menyekolahkan anak-anaknya ke pendidikan yang tinggi.
Keinginan yang keras demi melihat anak-anaknya mendapat pendidikan yang layak dan mendapat sebuah ilmu yang akan menunjang pekerjaan adalah harapan besar untuk mewujudkan cita-citanya yang mulia tersebut.
Sedikit demi sedikit uang yang didapat dari bekerja dikumpulkannya. Dari uang itulah Sulastri dapat menyekolahkan kedua anaknya sampai ke perguruan tinggi. Kesadaran akan sebuah pendidikan yang utama membuat Sulastri banting tulang untuk mencukupi kebutuhan perkuliahan kedua anaknya yang dirasakannya memang sangat berat, namun Sulastri perempuan yang lahir di Nganjuk itu tak patah semangat, banyak tetangga-tetangganya yang mencibir keinginan keras Sulastri untuk menyekolahkan kedua anaknya ke pendidikan yang tinggi.
Kesulitan yang dialami bukan tak ada, biaya perkuliahan yang sekarang semakin tinggi membuat Sulastri sesekali hutang ke tetangganya untuk membayar biaya perkuliahan anak-anaknya. Sebuah perjuangan besar dan dibayar mahal oleh keberhasilan anak pertamanya yang berhasil lulus pada tahun 2006, harapan dan juga cita-cita tinggi oleh Sulastri masih menyisakan satu perjuangan besar yakni membiayai perkuliahan anaknya yang terakhir  yang masih di semester IV Universitas Mulawarman.
Kesuksesan dari sebuah perjuangan besar yang hanya dengan berjualan “Gado-gado” mampu mewujudkan cita-cita seorang Ibu, sekaligus untuk menyediakan pendidikan yang luar biasa untuk anak-anaknya.
3.   Investigasi
Suatu ketika diberitakan tentang penggunaan borax atau formalin pada produk bola daging bakso, kemudian pada waktu lain tentang penggunaan zat pewarna berbahaya untuk pewarna makanan. Dilain kesempatan juga pernah ditayangkan tentang daging sapi glonggongan, ayam bangkai (tiren), campuran daging tikus pada bola daging bakso dan masih banyak lagi contoh lainnya. Semuanya menakutkan dan bahkan mengerikan.
Yang menjadi persoalan adalah apakah semua itu fakta atau jangan-jangan sebagian hanya berita yang direkayasa. Penyamaran pelakunya memang perlu untuk menjaga etika pemberitaan, namun hal ini juga bisa menjadi cara bagi pembuat acara itu untuk membuat berita fiktif. Pemberitaan laporan investigasi sebagian besar memang produk makanan olahan dan industri rumah tangga, jadi memang pada umumnya tidak langsung di bawah pengawasan badan POM. Dalam hal ini muncul kecurigaan bahwa pemberitaan, atas permintaan industri besar, sengaja ditiupkan untuk mematikan industri kecil rumah tangga yang biasanya lebih murah. Selanjutnya karena ketakutan oleh pemberitaan terhadap produk itu, konsumen ganti memilih membeli produk perusahaan yang pasti sudah di bawah pengawasan badan POM. Konsumen menjadi ketakutan membeli produk makanan industri rumah tangga, padahal belum tentu industri kecil rumah tangga melakukan praktek nakal seperti laporan investigasi tersebut.
Seandainya memang diduga ada praktek merugikan konsumen, sebaiknya yang melakukan investigasi adalah badan POM bukan wartawan media. Karena seperti yang disebutkan di atas, pemberitaan investigasi tersebut diragukan kebenarannya, terkesan direkayasa. Lebih baik media bekerjasama dengan badan POM untuk investigasi yang resmi, sehingga keakuratan laporannya bisa dipertanggungjawabkan.
Konsumen memang perlu dilindungi dan dalam hal konsumen produk makanan badan POM yang bertanggungjawab, bukan media masa. Media hanya membantu untuk memberitakannya. Jangan seperti laporan investigasi selama ini yang terkesan diatur skenarionya. Seharusnya wartawan media mencari permasalahan yang dialami konsumen kemudian membawanya ke badan POM dan selanjutnya bekerjasama menginvestigasinya secara resmi dan kemudian memberitakannya. Sehingga konsumen memperoleh berita yang sesuai fakta dan bukan terkesan rekayasa yang hanya menakut-nakuti masyarakat konsumen.
4.   Opini ( Pendapat )
“ Bahaya Narkoba”
Pentingnya mengetahui masalah bahaya narkoba, seperti issu atau info yang hampir setiap harinya memberitakan tentang bahaya narkoba dan yang menjadi korbnnya adalah generasi muda yang ingin mencoba – coba barang haram tersebut. Opini saya tentang bahaya narkoba adalah yang sudah diketahui secara umum, bahwa sekarang ini narkoba menjadi primadona baik bagi kalangan muda maupun tua. Meskipun sekarang telah dilakukan banyak ceramah–ceramah tentang bahaya narkoba yang akan didapat dari penggunaan narkoba, sampai resiko yang terbesar yaitu kematian tetap saja para generasi muda pada umumnya ingin mencoba dan menggunakan narkoba.

Zaman sekarang banyak sekali ancaman yang dapat merusak generasai bangsa Indonesia. Salah satunya obat – obatan terlarang seperti narkoba, ekstasi, shabu-shabu, ganja dan sebangsanya merupakan ancaman nyata bagi generasi muda Indonesia. Bahkan akibat dari konsumsi narkoba telah terbukti merusak mental dan psikologis generasi bangsa, menjadi generasi yang tanpa masa depan. Sebagai fakta bahwa bangsa ini terus menerus dirusak oleh narkoba yaitu beberapa bulan yang lalu ditemukannya pabrik shabu-shabu yang beroperasi di Batam dimana omsetnya sekitar Rp 454 miliar, dan dibongkar oleh Polri yang bekerjasana dengan Kepolisian Internasional beberapa waktu lalu, cukup untuk membuktikan bahwa ancaman narkoba bagi generasi muda sudah sangat banyak dan cukup serius. Bila semakin banyak generasi bangsa yang terusak oleh narkoba, maka bangsa kita ini bisa menjadi bangsa yang semakin tertinggal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar